Episode 2
Hari ini aku binggung mau cerita
apa, banyak kerjaan dihari ini. Padahal sekarang hari minggu, harusnyakan
libur. Tapi aku harus bangun pagi dan segera bergegas menuju kampus UAD
tercinta. Harusnya datang jam 06.00 tapi aku tertidur lagi setelah sholat subuh
jadi aku terlambat 1 jam ke kampus. Jam 07.00 baru datang, harus pasang muka
tebal menghadap mas Agung selaku Pj absensi panitia. Acara yang diadakan IMM
MIPA/JPMIPA yaitu PKM, aku termasuk panitia disitu.
Aku sempatkan untuk menulis ini
ditengah berlangsungnya acara, melanjutkan ceritaku yang kemarin bersambung ya.
Kemaren sampai aku bisa berjalan ya.
Ekonomi keluargaku yang sangat
minim membuat ayah dan ibuku memutuskan untuk pergi transmigrasi. Daerah yang
ayahku pilih yaitu Kalimantan Tengah. Daerah yang tak ingin dan tak pernah
terpikirkan olehku untuk tinggal disana. Aku lupa nama desanya apa, ak hanya
ingat iti diKalimantan Tengah, masih sangat terpencil.
Kita pindah kesana, waktu itu
ayah dan ibuku baru punya anak 2, kakakku dan aku. Usiaku masih sangat kecil
jadi aku belumtau apa-apa hanya mengikuti kemana orangtuaku membawaku pergi. Sementara
kakakku sudah cukup mengerti akan keadaan itu.
Kita sampai disana, tinggal
disebuah rumah yang sekarang ini ingin sakali aku lihat. Rumahnya sederhana
terbuat dari kayu-kayu yang disusun rapih. Rumah itu sangat unuk menurutku,
bagaimana tidak depan rumah tanah, tapi belakang rumah sungai. Lebih tapatnya
bagian belakang rumahku. Jadi rumahku disana berdiri diantara tanah dan air.
Disana kami berusaha membaur
dengan masyarakat sana, mengikuti aturan adat disana. Meski susah tapi tatap
harus belajar, agar bisa bertahan disana. Hanya saja untuk bisa mengikuti
bahasa sana itu sangat susah jadi aku memilih menggunakan bahasa indonesia
untuk berkomunikasi sehari-hari dengan masyarakat sana.
Detik berganti menit, hari
berganti minggu dan bulanpun berganti dengan tahun. Tak terasa kami telah
tinggal disana cukup lama. Kurang lebihnya 1 tahun, kami hidup disana. Ayah mengais
rezeki siang dan malam untuk mencukupi kehidupan kita. Tanpa kenal putus asa,
tanpa menghiraukan teriknya mentari, derasnya hujan. Ayah tetap berjuang demi
kami, anak-anaknya yang begitu beliyau cintai.
Ditahun ke2 kami hidup disana,
ibu mengandung. Dan melahirkan seorang anak perempuan. Dia diberi nama Leni
Gezi, lahir di tanah transmigrasi bertepatan di hari Kartini. Belumlama setelah
kelhirannya kami sekeluarga memutuskan untuk berpindah lagi.
Bersambung,,,,,,,,,,,,,,
ini ceritaku hari ini, apa ceritamu,,,,
Pindah kemana per??? cilacapkah?
BalasHapuspindah ke jawa fi
BalasHapus