Minggu, 28 Desember 2014



Episode 2
Hari ini aku binggung mau cerita apa, banyak kerjaan dihari ini. Padahal sekarang hari minggu, harusnyakan libur. Tapi aku harus bangun pagi dan segera bergegas menuju kampus UAD tercinta. Harusnya datang jam 06.00 tapi aku tertidur lagi setelah sholat subuh jadi aku terlambat 1 jam ke kampus. Jam 07.00 baru datang, harus pasang muka tebal menghadap mas Agung selaku Pj absensi panitia. Acara yang diadakan IMM MIPA/JPMIPA yaitu PKM, aku termasuk panitia disitu.
Aku sempatkan untuk menulis ini ditengah berlangsungnya acara, melanjutkan ceritaku yang kemarin bersambung ya. Kemaren sampai aku bisa berjalan ya.
Ekonomi keluargaku yang sangat minim membuat ayah dan ibuku memutuskan untuk pergi transmigrasi. Daerah yang ayahku pilih yaitu Kalimantan Tengah. Daerah yang tak ingin dan tak pernah terpikirkan olehku untuk tinggal disana. Aku lupa nama desanya apa, ak hanya ingat iti diKalimantan Tengah, masih sangat terpencil.
Kita pindah kesana, waktu itu ayah dan ibuku baru punya anak 2, kakakku dan aku. Usiaku masih sangat kecil jadi aku belumtau apa-apa hanya mengikuti kemana orangtuaku membawaku pergi. Sementara kakakku sudah cukup mengerti akan keadaan itu.
Kita sampai disana, tinggal disebuah rumah yang sekarang ini ingin sakali aku lihat. Rumahnya sederhana terbuat dari kayu-kayu yang disusun rapih. Rumah itu sangat unuk menurutku, bagaimana tidak depan rumah tanah, tapi belakang rumah sungai. Lebih tapatnya bagian belakang rumahku. Jadi rumahku disana berdiri diantara tanah dan air.
Disana kami berusaha membaur dengan masyarakat sana, mengikuti aturan adat disana. Meski susah tapi tatap harus belajar, agar bisa bertahan disana. Hanya saja untuk bisa mengikuti bahasa sana itu sangat susah jadi aku memilih menggunakan bahasa indonesia untuk berkomunikasi sehari-hari dengan masyarakat sana.
Detik berganti menit, hari berganti minggu dan bulanpun berganti dengan tahun. Tak terasa kami telah tinggal disana cukup lama. Kurang lebihnya 1 tahun, kami hidup disana. Ayah mengais rezeki siang dan malam untuk mencukupi kehidupan kita. Tanpa kenal putus asa, tanpa menghiraukan teriknya mentari, derasnya hujan. Ayah tetap berjuang demi kami, anak-anaknya yang begitu beliyau cintai.
Ditahun ke2 kami hidup disana, ibu mengandung. Dan melahirkan seorang anak perempuan. Dia diberi nama Leni Gezi, lahir di tanah transmigrasi bertepatan di hari Kartini. Belumlama setelah kelhirannya kami sekeluarga memutuskan untuk berpindah lagi.
Bersambung,,,,,,,,,,,,,,
ini ceritaku hari ini, apa ceritamu,,,,

2 komentar: