Hai sobat, selamat sore. Semoga kalian dalam keadaan sehat.
Alhamdulilah aku masih diberikan umur panjang sehingga masih bisa berbagi
cerita dengan kalian semua.
Hari ini aku mau
berbagi masa kalian semua mengenai “ cara tebaik untuk menghukum orang yang
berbuat salah/jahat kepada kita, adalah dengan berbuat baik dan bijak selalu
padanya”.
Berikut pembahasannya sekali gus solusi dan ceritanya:
Sabar Dan Selalu Berbuat Baik
Islam adalah agama yang damai dan penuh keindahan. Islam
mengajarkan umatnya agar terus menerus berbuat kebaikan kepada sesama manusia
tanpa mempedulikan asal usul, status sosial, agama, jenis kelamin, dsb. Dalam
salah satu ayat Al-Qur’an,“Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib
kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga
yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang bepergian) dan hamba sahayamu
(pembantu).” (QS. An-Nisa [4]: 36).
Ayat ini mengajarkan untuk selalu berbuat baik kepada
siapapun tanpa memandang faktor-faktor darimana orang itu berasal, seberapa
kaya orang tersebut, apa jenis kelamin orang yang bersangkutan, dsb. Hal yang
lumrah ada kalanya dalam hidup ini kita menemui tantangan luar biasa yang tak
diinginkan, seperti dibenci banyak orang atas niat tulus dan perbuatan baik
yang kita lakukan atau mungkin “ditusuk” dari belakang oleh teman-teman maupun
keluarga dekat kita sendiri. Ironis bukan?
Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, mungkin saja ada teman
sekelas yang tidak suka dan berusaha menjatuhkan kita dengan berbagai cara,
termasuk mungkin memfitnah atau menyebar isu yang tidak benar. Bagi seorang
karyawan, mungkin saja sesama teman di kantor saling berusaha menjatuhkan dan
dibuat agar nama kita jelek di depan bos dan tidak jadi dipromosikan. Bagi
seorang pebisnis, mungkin saja pesaing kita melakukan cara-cara yang kotor dan
bisnis yang tidak beretika. Setiap orang, tidak peduli apa profesi dan
pekerjaannya, pasti akan menemu hal-hal seperti itu. Hidup itu keras bung! :)
Saran saya kepada orang-orang seperti ini: jangan dibalas
perbuatan jahat mereka! Karena kalau kita balas, ya berarti kita sama saja
dengan mereka. Sama-sama sakit!! hehe… Tapi balaslah segala kejahatan yang
orang lain lakukan kepada kita dengan kebaikan. Allah Swt telah mengajarkan di
dalam Al-Qur’an, “Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yg lebih
baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.” (Q.S. Al-Mu’minun
[23]: 96).
Hadapi saja semua tantangan dan masalah yang kita hadapi
dalam hidup ini dengan penuh syukur. Karena memang begitulah kehidupan
berjalan. Terkadang berada di atas dan di lain waktu berada di bawah.
Terkadang, perbuatan baik yang kita lakukan malah dibalas dengan kejahatan oleh
orang lain. Oleh karenanya, manakala kita melakukan sesuatu, jangan pernah
berharap bahwa kita akan memperoleh sambutan hangat atau balasan yang serupa
dari orang yang bersangkutan. Karena jika itu yg terjadi, bersiap-siaplah kita
merasakan kekecewaan yang dalam.
Watak manusia sungguh beragam dan tak mesti sehaluan dengan
apa yang kita inginkan. Pastinya kita menginginkan setiap orang berbuat baik
kepada kita kan? Sayangnya dunia tidak selebar daun kelor (ga nyambung). Semua
sikap yang tidak mengenakkan dari manusia, baik ataupun buruk, terimalah dengan
penuh kesabaran. Bilamana kita mengindahkan ajaran Islam, balaslah dengan yg
terbaik. Namun, bilamana membalas keburukan itu dengan kebaikan masih sulit dan
berat, biarkan saja mereka. Jangan sekalipun kita terprovokasi. Inget selalu
pepatah ini: “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.”
Contoh nyata dari kesabaran menghadapi orang lain adalah apa
yg ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dalam dakwah beliau kepada kafir Quraisy di
Makkah. Nabi Muhammad yang diutus oleh Allah SWT untuk menyucikan jiwa-jiwa
kotor, hati kusam, dan mengajarkan akhlak karimah bukannya disambut dengan
baik. Tapi malah dicemooh, dihina, difitnah, dan dihujat. Tidak jarang, bahkan beliau
dilempari tulang belulang, kotoran unta dan diludahi ketika beribadah di
Ka’bah. Namun, apakah beliau membalas semua tindakan keji itu dgn tindakan yang
sama? Ternyata tidak!
Dalam peristiwa Thaif, ketika Rasulullah SAW datang bersama
para sahabat mencari perlindungan, beliau malah dilempari batu hingga berdarah.
Dalam kondisi yang demikian, ternyata bukan kemarahan dan dendam yang
ditunjukkan Rasulullah saw. Beliau malah mendoakan orang-orang yg melemparinya
agar segera mendapat hidayah dari Allah SWT. Padahal, para malaikat yg diutus
oleh Allah SWT telah menawarkan kepada beliau untuk menghukum mereka. Ibaratnya
kalau Rasulullah bilang “iya” saja kepada malaikat, maka itu orang-orang yang
berbuat jahat kepada Rasulullah akan langsung dijadiin tempe mendoan semuanya
alias benyek.
Tapi Rasulullah SAW menolak tawaran tersebut, malah beliau
berbuat kebaikan kepada orang-orang yg menzalimi tersebut dengan mendoakan
mereka agar mendapat hidayah. Terbukti, sebagian besar dari mereka memeluk
agama Islam dan menjadi pembela Rasulullah paling depan di medan-medan perang.
Subhanallah.. Inilah kehebatan dari seorang Nabi Muhammad saw yang membalas
kejahatan dengan penuh kebaikan, dan akhirnya justru malah kemenangan yang
didapat, yaitu orang-orang yang tadinya kafir dan memusuhi, malah berbalik
memeluk agama Islam karena akhlak terpuji yang ditunjukkan oleh Rasulullah.
Tidak salah memang bahwa Nabi Muhammad saw adalah contoh
manusia terbaik yang harus kita ikuti. “Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut
Allah.” (QS. Al-Ahzab:21).
Apa yang dilakukan Rasulullah saw membuat saya teringat
dengan istilah yang sangat menarik, “you may lose the battle
but you win the war”. Kata battle di sini
diistilahkan sebagai perang kecil dan war adalah sebuah perang
yang lebih besar. Inilah yang disebut mengalah untuk menang. Kita sering
mengartikan bahwa yang namanya mengalah itu ya berarti kalah, padahal tidak
demikian. Mengalah bukan berarti kalah, namun mengalah untuk merangkul dan
selanjutnya untuk menang.
Dalam cerita di atas tadi, Nabi Muhammad saw boleh saja kalah
dalam battle (pertempuran kecil), namun beliau menang mutlak dalam war
(perang yang lebih besar). Kekalahan battle Rasulullah
adalah beliau dimaki-maki, dilempari batu bahkan diludahi setiap harinya. Tapi
Rasululah menahan diri untuk tidak membalas karena beliau tahu bahwa ada
sesuatu yang lebih besar yang harus dia perjuangkan, yaitu tugas utamanya
berada di muka bumi ini untuk memperbaiki akhlak manusia dan menyiarkan syiar
Islam seluas-luasnya sebagai agama yang rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat
bagi seluruh alam semesta).
Lalu akhirnya jelas sekali, kemenangan war Rasulullah
adalah pada akhirnya orang-orang yang tadinya membenci dan memusuhi, bahkan
ingin membunuh beliau, malah mengucapkan syahadat, memeluk agama Islam dan
menjadi tameng-tameng hidup yang paling setia bagi Rasulullah saw dalam setiap
perang. Inilah kemenangan besar Nabi Muhammad saw yang berhasil menjalankan
misinya di muka bumi yang menyiarkan syiar Islam dan membuat para pembencinya
memeluk agama Islam atas kesadaran sendiri dikarenakan perbuatan baik yang
dicontohkan Rasulullah saw.